Rabu, 29 Januari 2014

POTENSI LADA DI KABUPATEN TANGGAMUS 
 
Produksi Perkebunan Rakyat Untuk Lada Untuk Tahun 2006 :1,824 Ton dan Untuk Tahun 2009:1,956 Ton
PRODUKSI 2009 (TON)1.956
PRODUKSI 2006 (TON)1.824

Sumber Data:
Statistik Perkebunan 2009-2011
Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Kantor Pusat Departemen Pertanian, Pasar Minggu - Jakarta 12550
Telp 021-7817693 021-7815380-4 Ext-4318
Fax 021-7815586 021-7815486

Updated: 10-10-2013
LAHAN YANG SUDAH DIGUNAKAN (HA)7.956
STATUS LAHANluas Lahan Perkebunan Rakyat Untuk Lada terdiri dari TBM:1,490 TM:5,710 TTM:756
VISI
“TERWUJUDNYA MASYARAKAT YANG TANGGUH, SEJAHTERA DAN AGAMIS DALAM SUASANA DAN TATANAN DAERAH YANG AMAN, TERTIB, LESTARI DAN MANDIRI”

MISI
  1. Menciptakan good governance dalam praktek penyelenggaraan pemerintah
  2. Penggalakan kegiatan ekonomi produktif masyarakat dan penciptaan lapangan pekerjaan.
  3. Peningkatan kualitas dan taraf hidup petani
  4. Peningkatan kualitas dan kuantitas produksi sektor pertanian
  5. Peningkatan kemampuan, pelayanan dan pemandirian lembaga pemerintahan daerah
  6. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
  7. Peningkatan kualitas pendidikan
  8. Peningkatan sosialisasi pelestarian hutan dan penegakan hukum terhadap ilegal logging
  9. Peningkatan transparansi dan peran serta masyarakat dalam pembangunan daerah
  10. Peningkatan kualitas hidup guru agama, guru pendidikan umum negeri dan swasta serta guru daerah terpencil.
  11. Penggalakan kegiatan keagamaan dan mutu tempat ibadah
  12. Pengembangan dan pelestarian budaya daerah

Selasa, 28 Januari 2014

Parade Budaya FTS Sedot Perhatian Warga Kota Agung - 01_FTS_11.jpg

Parade Budaya FTS Sedot Perhatian Warga Kota Agung - 01FTS_6.jpg
Puncak Festival Teluk Semaka (FTS) 2012 Tanggamus berlanjut pada pawai budaya. Pawai ini menampilkan berbagai keunggulan yang ada mulai dari tiap kecamatan, sekolahan perguruan silat dan peragaan busana anak-anak. 

Pawai budaya inilah yang menyedot perhatian warga Kota Agung. Rute pawai dimulai dari Terminal Agung, Jl Ir. Juanda ke Rumah Dinas Bupati. Saat melintasi rumah dinas disana ada Bupati Bambang Kurniawan beserta para pejabat. 

Saat itu mereka menampilkan atau memberikan hasil bumi yang menjadi unggulan kecamatan masing-masing. Acara berlangsung cukup meriah karena perhatian warga menjadi tersedot oleh peserta pawai budaya.


Kuliner Durian di Kota Agung Tanggamus –
jenis kuliner ini banyak digemari masyarakat bukan dari kota agung saja namun dari berbagai daerah,karena selain rasanya yang manis baunya menyengat yang khas yang memikat para pembeli.

Kerajinan Bambu di Tanggamus

Kerajinan bambu adalah kerajinan yang menggunakan bahan dasar bambu, kerajinan bambu ini sangat banyak bentuknya, ada yang untuk keperluan sehari-hari di dapur, ada kerajinan bambu untuk hiasan di rumah, ada juga kerajinan bambu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari dan lainnya.
Di Tanggamus kerajinan bambu ada banyak, dan para pengrajin bambu ini membuat kerajinan bambu yang spesial dan sangat cocok untuk dijadikan hiasan di rumah-rumah. Anda bisa mendapatkan beraneka bentuk hasil karya dari bahan bambu. Bambu bisa diolah menjadi berbagai macam benda yang memiliki nilai seni, seperti hiasan lampu, kap lampu, krey, topi, dan masih sangat banyak kerajinan dari bahan bambu yang bisa Anda dapatkan.

Sejarah Kabupaten Tanggamus


perkembangan wilayah Tanggamus, menurut catatan yang ada pada tahun 1889 pada saat Belanda mulai masuk di Wilayah Kota Agung, yang ada pada saat itu pemerintahannya dipimpin oleh seorang Kontroller yang memerintah di Kota Agung. Pada waktu itu pemerintahan telah dilaksanakan oleh Pemerintah Adat yang terdiri dari 5 (lima) Marga yaitu :

1. Marga Gunung Alip (Talang Padang),
2. Marga Benawang,
3. Marga Belunguh,
4. Marga Pematang Sawa,
5. Marga Ngarip.

Masing-masing marga tersebut dipimpin oleh seorang Pasirah yang membawahi beberapa Kampung.

Perkembangan selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 114/ 1979 tanggal 30 Juni 1979 dalam rangka mengatasi rentang kendati dan sekaligus merupakan persiapan pembentukan Pembantu Bupati Lampung Selatan untuk Wilayah Kota Agung yang berkedudukan di Kota Agung serta terdiri dari 10 Kecamatan dan 7 Perwakilan Kecamatan dengan 300 Pekon dan 3 Kelurahan serta 4 Pekon Persiapan. Pada akhirnya Kabupaten Tanggamus terbentuk dan menjadi salah satu dari 10 Kabupaten/ Kota yang ada di Propinsi Lampung. Kabupaten Tanggamus dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 1997 yang di undangkan pada tanggal 3 Januari 1997 dan diresmikan menjadi Kabupaten pada tanggal 21 Maret 1997.

Sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat adat di Kabupaten Tanggamus, pada tanggal 12 januari 2004 Kepala Adat Saibatin Marga Benawang merestui tegak berdirinya Marga Negara Batin, yang sebelumnya merupakan satu kesatuan adat dengan Marga Benawang. Pada tanggal 10 Maret 2004 di Pekon Negara Batin dinobatkan kepala adat Marga Negara Batin dengan gelar Suntan Batin Kamarullah Pemuka Raja Semaka V.


Dengan berdirinya Marga Negara Batin tersebut, masyarakat adat pada tahun 1889 terdiri dari 5 marga, saat ini menjadi 6 marga, yaitu : Marga Gunung Alip (Talang Padang), Marga Benawang, Marga Belunguh, Marga Pematang Sawa, Marga Ngarip, Marga Negara Batin.

Secara geografis Kabupaten tanggamus terletak pada posisi 104°18’ - 105°12’ Bujur Timur dan 5°05’ - 5°56’ Lintang Selatan. Luas wilayah 3.356,61 km2 yang meliputi wilayah daratan maupun perairan. Satu dari dua teluk besar yang ada di Propinsi Lampung terdapat di Kabupaten Tanggamus yaitu teluk Semaka dengan panjang daerah pantai 200 km dan sebagai tempat bermuaranya 2 (dua) sungai besar yaitu Way Sekampung dan Way Semaka. Selainitu Wilayah Kabupaten tanggamus dipengaruhi oleh udara tropical pantai dan dataran pegunungan dengan temperatur udara yang sejuk dengan rata-rata 28°C


1. TELUK KILUAN

teluk Kiluan memang belum seterkenal Teluk Lampung atau Teluk Semangka yang sama-sama terletak di Provinsi Lampung. Teluk ini bahkan jarang tercantum di peta. Padahal, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 80 kilometer dari Bandar Lampung atau sekitar 60 kilometer dari Kota Agung, ibu kota Kabupaten Tanggamus.

Agak sulit untuk mencapai Teluk Kiluan. Apabila ingin menggunakan mobil pribadi, kendaraan terpaksa parkir di Desa Bawang, Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Lampung Selatan. Dari sana, perjalanan diteruskan dengan ojek. Tarif ojek dari Desa Bawang hingga ke Teluk Kiluan sebesar Rp 30.000. Padahal, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 kilometer.


Rupanya, kondisi geografis yang sulit membuat tukang ojek memasang tarif tinggi. Untuk menuju Teluk Kiluan, motor itu harus mendaki Gunung Tanggang (1.162 meter). Jalan berupa tanah itu sangat sempit dan licin di waktu hujan.

Apabila enggan memompa adrenalin lewat jalan darat, Teluk Kiluan dapat dicapai lewat laut. Dari Teluk Betung, Bandar Lampung, teluk ini dapat dicapai dalam waktu tiga jam.

Tidak hanya kedamaian yang didapat dari mengunjungi teluk ini. Laut yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia itu juga kaya akan berbagai jenis biota laut seperti ikan, terumbu karang, dan berbagai jenis organisme lainnya. Salah satu yang khas di Teluk Kiluan adalah atraksi lumba-lumba di laut lepas.

Setidaknya ada dua spesies lumba-lumba di Teluk Kiluan. Spesies pertama, yang berbadan lebih besar dengan tubuh berwarna abu-abu dan sedikit pemalu, adalah Lumba-lumba Hidung Botol (Tursiops truncatus). Lumba-lumba yang lain adalah Lumba-lumba Paruh Panjang (Stenella longirostris), yang bertubuh lebih kecil dan senang melompat.

Kedua jenis lumba-lumba itu cukup akrab dengan manusia. Lumba-lumba senang mendekati perahu atau kapal yang tengah melintas di laut. Dari jauh, tampak sirip mereka, mirip antena kapal selam yang semakin lama semakin mendekat.

Setelah dekat, lumba-lumba pun berloncatan, bergantian menyelam, timbul tenggelam, hampir tidak ada jarak dengan perahu. Mereka seolah berlomba menunjukkan diri kepada manusia dan mudah disentuh. Lumba-lumba itu tampak sangat menggemaskan, ingin rasanya memeluk dan menciumi mereka. ”Rasanya ingin menarik satu dari laut dan menciumnya,” ujar Martin, seorang pengurus Yayasan Ekowisata Cinta Kepada Alam (Cikal) yang berperahu ke tengah laut untuk melihat lumba-lumba.


. BATU TEGI 

 dibangun pada sungai sekampung ± 65 Km sebelah hulu bendung Argoguruh atau ± 90 sebelah Barat Daya Kota Bandar Lampung. Sumber Dana untuk pelaksanaan pembangunan waduk Batutegi berasal dari dana APBN dan LOAN OECF. Pelaksanaan proyek terdiri dari : Study Kelayakan pada tahun 1978,Detail Desain diselesaikan pada tahun 1983. Pekerjaan Riview design dan supervisi Pelaksanaan dimulai bulan pebruari 1994 dan pelaksanaan pekerjaan terowongan dimulai Tahun 1995. Pelaksanaan pekerjaan Bendungan dimulai pada tahun 1996 dan selesai tahun 2000.
Bendungan ini tepatnya berada di kabpaten Tanggamus, Lampung, sekitar 4 jam perjalanan dari Pelabuhan Bakauheni.
Bagi anda yang belum pernah kesana perlu dicoba sekali kali untuk berkunjung ke wisata bendungan tersebut. Dijamin anda akan ditakjubkan dengan pemandangan alam sekitar dan kawasan yang begitu sejuk dan nikmat untuk dinikmati.
Demikian sekilas tentang Bendungan Batu Tegi Lampung semoga bisa menjadi referensi liburan anda sekeluarga.